If I didn’t do the movement right, my body would tell me right away. If
you miss your jump, you hurt yourself; otherwise, you don’t feel
anything. The most important thing to him was to repeat: "By doing the
movements a dozen, a hundred times, trust comes and by doing the same
movements over and over again, it becomes automatic."
I started with jumps that were likely to help me make progress, but
without taking too much risks at first because I was aware of my mother
waiting at home for her son who was training. That prevented me from
doing crazy things and having an uncaring rebel teenage attitude like,
"Well, if I hurt myself, I just don’t care!"
Some guys are really proud to break a bone and they like to brag about
it. But truth is, it only shows a total lack of respect towards oneself
and one’s body. What’s the point in being ready to destroy yourself just
to show that you don’t care? Once you’re hurt, you can’t move forward
anymore.
Those who don’t want to get a bit hurt, who don’t want to have scratched hands, shouldn’t come to Parkour.
When you add acrobatics, your attention is focused on the salto and you
get rid of all the rest; everything Parkour is about, which is jumping,
climbing, moving from point A to point B. Practicing Parkour isn’t about
fun, with piercings everywhere, green or purple hair or nice shoes.
It’s unnecessary. In Parkour, if the guy understands why he’s here, why
he’s doing these movements, that’s great. If he learns to cross
obstacles without hurting himself, that’s what really matters. Then, if
he puts style into it, putting his little finger in the air like that,
who cares? If a guy feels good when he jumps, if his landing is good,
then he got it.
After watching some participants, I realized after a while that they
didn’t do the things I was looking for in Parkour anymore, they didn’t
have the same mindset anymore. During some trainings, public shows or
movies, it was going downhill, it was baloney. Some brought a fun side
to it, a freestyle spirit. Sure, it looks good and spectators love it
but with saltos and other nice figures, the movements are not the same
anymore. It turns into a show and that’s not what Parkour is about. I’m
not saying I didn’t do acrobatics myself – I did – but it was after
training, after the Parkour, just for fun, to relax and unwind. It was a
way to chill out, like a soccer player who is going to do a somersault
after scoring. When I was training with some friends, they sometimes put
all their energy working on something freestyle - everything the young
liked at the time – but I personally thought it was useless. I didn’t
want to waste my time working on a salto like this or that because I
knew in a real life situation, I wouldn’t have time to do it. When I did
acrobatics, I was actually training in depth. It looked like I was
having fun doing it but truth was I did it for a specific reason: I was
working on the basics, I was improving my perception of space and
distances.
We should be motivated by the love of sports, not challenge or
competition. I have to admit that it was also a mistake to put some
acrobatics in my first videos but when I did those demos, it was to
ignite a spark and have the young start thinking, "Hey, I don’t know why
he’s doing it but he makes me want to put my sneakers on, go outside
and move!"
The first thing is to figure out why the kid came to see me, why he
wants to learn Parkour. I try to find his real motivation, what made him
want to move. If he only wants to do saltos and spins, then I tell him
to do gymnastics or freerun – everything but Parkour. If he wants to do
videos or movies, I send him straight back home. When I teach Parkour to
a young, I don’t want to know what he’s going to do with it. He can
become an actor, an acrobat, any artistic job, or become a fire fighter
or a rescuer, never mind. I don’t want to know.
The principle of Parkour is to know what you are capable of, to gain
self-confidence and not to compete with others. To me, in this sport,
there are only people who start from scratch, who fight and learn so
much along the way, who will be able to understand every step, every
link in the chain of Parkour.
If you get into filming or photography, you already alter the spirit of
Parkour. It means you jump to show off and brag; it’s more about
yourself. At first, I didn’t want any photos or video. I just wanted to
train for the sake of training and not jump because someone was watching
or asking me. I may have triggered the whole thing by showing what I
was doing at first but I didn’t want that. I made videos for producers
and advertising agencies to give them ideas and have them want to work
with me. But those videos ended up on the net; and it wasn’t my idea.
There was a time when you typed David Belle on a search engine and
nothing showed up. Nowadays, everything is out there. It doesn’t
interest me. Parkour is not on the net; it takes place outdoors. Once
again, you have to be real, not bluffing.
With Parkour, one shouldn’t feel invincible either…
Jamming Regiomal East Java #5 (L.I.MO)- 2014 akan diadakan pada tanggal 14-15 Juni 2014 di Kota Probolinggo. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 01 Maret 2014 s/d 30 April 2014 dengan biaya pendaftaran Rp. 125.000,- Cara Pendaftaran : 1. Kumpulkan semua teman-teman yang ingin ikut Jamming Regional East Java #5, dan setiap kota harus dikoordinir oleh satu orang sebagai koordinator. 2. Konfirmasikan jumlah peserta per-kota oleh setiap koordinator melalui sms kepada panitia Jamming Regiomal East Java #5 (L.I.MO)- 2014 dengan format sbg berikut : Nama/Jenis Kelamin/Kota/Ukuran kaos/No.HP ( untuk informasi kontak ada dibawah pengumuman ini) 3. Selanjutnya silahkan mengirimkan total biaya pendaftaran ke : 143-00-1331-256-4 a/n Yosa Agung Hindarto (Mandiri) 4. Setelah melakukan transfer mohon segera dikonfirmasikan ke CP panitia yg ada dibawah ini. 5. Pengumuman bagi peserta yg telah terdaftar akan diumumkan panitia selambatnya 2 minggu setelah pendaftaran ditutup. Contact Person : - Yosa (089 632 721 567) - Gery (089 632 326 351) NB: - panitia akan memberlakukan batasan kuota bagi peserta. - buat praktisi ataupun traceur dari luar JATIM boleh ikutan.. Tapi jangan kecewa dengan adanya kuota, karena di jamreg kali ini akan berbeda dari yg sebelum-sebelumnya... Kita akan memberikan sesuatu yg berharga bagi kalian semua dan juga akan ada doorprize menarik buat kalian semua... Siapa lagi kalau bukan dari MALINGKONDANK dan juga dari GOOD GUY...Tapi jangan khawatir S.I.P.P - PARKOUR PROBOLINGGO juga g' akan kalah... S.I.P.P - PARKOUR PROBOLINGGO juga akan memberikan hadiah yg langkah dan yg g' prnah d dapetin d jamreg east java sebelum-sebelumnya... JADI BUAT KALIAN YG DARI JATIM MAUPUN DARI LUAR JATIM BURUAN DAFTARIN DIRI KALIAN SECEPATNYA,,,
JUMPalitan (Parkour Jogja) mendapat kehormatan menjadi tuan rumah acara gathering praktisi parkour wanita se-Indonesia.
Kali ini acara nya bertema Flow Work.
Dimana cewek-cewek perkasa ini, dibimbing oleh para mentor dari JUMPalitan untuk menguasai teknik ber flow ria.
Hari pertama mengambil tempat salah satu wisata di kota Jogja, yaitu Pulau Cemeti Taman Sari dan Taman Pasar Ngasem.
Meskipun hari itu diguyur hujan, para wanita ini tidak berhenti menunjukkan aksi mereka hingga malam pun menyambut.
Setelah selesai berbasah-basahan di spot latihan, tmn2 cewek ini
diajak pulang ke wisma untuk istrahat mandi dan berdandan ala wanita.
kemudian diajak berbelanja souvenir di Mirota Batik.
setelah puas berbelanja di mirota batik, merekapun langsung dibawa ke
tempat makan yang cukup khas dan unik, yaitu soto sampah, dimana isi
soto nya berbagai mcm lauk pauk.
setelah kenyang makan soto sampah, mereka pun dibawa ke alun2 selatan
untuk mencoba permainan unik, melewati pohon beringin dengan mata
tertutup.
hanya 1 orang yang berhasil pada malam itu.
whahaa
Setelah puas jalan2 malam itu, mereka pun dibawa ke wisma untuk istirahat tidur, guna menghadapi latihan esok hari nya.
dan inilah moment2 yang tertangkap camera.
Hari Kedua GDO 2013.
Kali ini mereka dibawa ke tmpt latihan favorit tmn2 JUMPalitan.
Yaitu Kampus Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia.
Dimana disini mereka kembali diajri cara2 ber flow ria.dan mencoba melawan rasa takut ketika menghadapi sebuah obstacle.
Setelah puas latihan di kampus FTI UII, mereka pun dibawa ke tempat makan siang, dan dilanjutkan jalan2 ke museum Merapi.
Semangat kartini mereka memang luar biasa, dari pagi hingga menjelang siang selalu bersemangat untuk mencoba bergerak.
Bahkan di museum merapi pun mereka selalu mencari2 spot buat berlatih.
Dan inilah beberapa moment yg tertangkap camera.
Terima kasih banyak untuk teman-teman Jumpalitan yang sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk acara ini.
semoga article ini bermanfaat dan menambah semangat buat kita para praktisi untuk terus berlatih,,,
TERIMA KASIH
merupakan acara tahunan dari Parkour Indonesia, yang diselenggarakan di
salah satu kota di indonesia yang ditunjuk menjadi tuan rumah. Secara
garis besar acara Jamming Nasional merupakan sebuah ajang berkumpul,
latihan dan diskusi bersama seluruh praktisi Parkour yang ada Indonesia,
dimana pada acara ini para praktisi diajak untuk lebih saling mengenal
satu sama lain secara langsung dan berbagi pengalaman tentang
perkembangan parkour di masing – masing kota di Indonesia.
Jamming nasional I diadakan pada tahun 2009 yang bertempat di kota
Malang, kemudian dilanjutkan berturut – berturut di kota Bandung,
Yogykarta dan Surabaya. Untuk acara Jamming Nasional Parkour Indonesia tahun 2013, Parkour Bali mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah
Jamming nasional ke V dengan tema Tri Hita Karana.
Tri Hita Karana merupakan konsep filsafat dari Bali yang telah
diterapkan pada kehidupan masyarakat Bali. Konsep ini mengajarkan kepada
kita tentang keseimbangan hubungan yang bersifat timbal balik antara
manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam
atau lingkungannya. Jadi, penghayatan dan pengamalan yang terpadu secara
seimbang dari ketiga unsur tri hita karana ini akan mengantarkan pada
keseimbangan, keselarasan, dan keserasian hidup yang memberi kebahagiaan
lahir batin. Hakikat dari filosofi tri hita karana adalah mengajarkan
sikap hidup yang seimbang antara bakti kepada Tuhan, menghormati,
mengasihi atau melayani antar sesama, dan menjaga kelestarian lingkungan
alam.
Dengan menggunakan konsep Tri Hita Karana ini diharapakan para
praktisi parkour yang mengikuti Jamnas kali ini sadar bahwa tidak hanya
pengembangan dan potensi diri saja yang harus di utamakan, melainkan
juga, keselarasan antara sesama Manusia, Alam dan Tuhan.
Jamming Nasional kali ini akan diadakan pada tanggal 11,12,13 Oktober 2013 di Bali.
Dikarenakan pada tanggal tersebut akan menyambut liburan Idul Adha di
tanggal 15. Jadi bagi praktisi yang mau lanjut liburan bisa extend untuk
mengeksplor bali *dengan biaya dan akomodasi sendiri*.
- 20 April – 10 Mei Pelunasan Biaya Pendaftaran JAMNAS 2013
Biaya Peserta :
- Rp.450.000
Biaya Termasuk :
- Penginapan
- Transportasi selama kegiatan
- Konsumsi
- Kaos + Baller Id
- Indoor Training
- Instruktur Berpengalaman
- Wisata Belanja
- Sertifikat
Supaya Kegiatan Jamming Nasional kali ini berjalan dengan tertib maka
peserta Jamming Nasional akan dibatasi untuk tiap kota. Jadi buruan
pastikan kamu terdaftar.
Dan untuk semua teman-teman yang akan berpasrtisipasi dalam Jamnas kali
ini diharapkan untuk mempersiapkan fisik dan stamina yang prima. Agar
pada saat acara berlangsung tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
*Jamnas kali ini terbuka untuk umum
*Pendaftaran dilakukan secara online secara perorangan baik untuk komunitas maupun umum
*Tidak menutup kemungkinan praktisi parkour dari negara tetangga untuk hadir.
*DP yang sudah terbayar tidak dapat dikembalikan.
*Terbuka untuk menjadi SPONSOR acara Jamming Nasional Parkour Indonesia
2012, berminat menjadi sponsor? Hubungi Chandra (085737640459) Tama
(081214520352)
Update
INFO PENDAFTARAN DAN PEMBAYARAN: Gelombang 2 : 29 April - 7 Juni Gelombang 3 : 10 Juni - 5 Juli * Gelombang 3 hanya dibuka khusus untuk pelunasan (Gelombang 1&2) atau langsung melakukan pembayaran FULL
Sejak kapan melintasi sebuah tembok sepanjang 30 meter dengan seorang
anak menggantung di punggung Anda menjadi hal yang kurang penting
dibandingkan melompat sejauh 18 kaki diantara dua gubuk dengan
‘pendaratan seperti di kotak pasir’? Saya tidak peduli dengan langkah
panjang dan bersuara nyaring anda, pria berusia 43 tahun itu yang
berumur dua kali lipat dari Anda, dua kali lebih kuat, serta ketika
turun dari ketinggian 2 meter tidak menghasilkan suara sedikitpun.
Hal-hal yang harus dihiraukan dalam parkour, ternyata tidak dihiraukan
-dan hal-hal yang secara luas dianggap mengesankan tidak lagi dianggap,
setelah Anda menggaruk permukaannya. Sistem nilai kita telah dirusak.
Terkadang saya mencoba melihat parkour dari sudut pandang netral, seolah-olah saya belum pernah mendengar parkour sebelumnya.
Apa yang akan saya pikir jika saya menemukan Parkour sekarang sebagai
anak berumur 17 tahun, pada tahun 2012? Saya membayangkan diri saya
akan berpikir bahwa parkour tampak seperti menyenangkan dan saya mungkin
akan menemukan diri saya ditarik ke bagian dari parkour namun saya akan
melihat sesuatu yang sangat berbeda dari yang saya lihat 9 tahun yang
lalu dan saya tahu hal itu tidak akan semenarik bagi saya dibandingkan
dulu.
Jika Anda telah selesai membaca artikel ini dan percaya akan
nilai-nilai yang saya yakini dapat ditemukan dalam parkour, maka semoga
Anda akan setuju bahwa jika kita tidak melakukan upaya lebih untuk
berbagi, maka nilai-nilai tersebut akan hilang. Pendatang baru hanya
akan melihat lompatan besar ketimbang suatu praktik yang mudah diakses
dan sangat serbaguna bagi siapa saja yang memiliki keinginan akan
tantangan, menguji dan memperbaiki diri sendiri. Apa yang saya lihat di parkour pada tahun 2003, pada umur 17:
Segelintir elit dengan gerakan berkualitas dan perhatian yang
terperinci dalam setiap tindakan yang hanya dapat dicapai melalui ribuan
jam praktik dan latihan mandiri.
Semangat bak pejuang tak gentar ketika berlatih dan pendekatan dalam
menghadapapi tiap tantangan, baik fisik, teknis maupun mental.
Sebuah komunitas yang positif dan berkembang terinspirasi oleh orang-orang yang sebelumnya telah berkecimpung.
Sebuah sistem pelatihan dan komunitas yang menghargai semua aspek
parkour secara setara, dan kesadaran kolektif yang tertarik pada praktik
parkour untuk seumur hidup, bukan sekedar untuk beberapa bulan.
Apa yang saya lihat pada tahun 2012, pada umur 26:
Sebuah peningkatan besar dalam jumlah orang berlatih di seluruh dunia.
Lompatan-lompatan besar.
Pendaratan yang buruk.
Kompetisi.
Beberapa orang berpegang teguh pada cara-cara lama dan meragukan alasan mereka untuk melakukannya itu…
dan, pada akhirnya, pergeseran dalam apa yang dihargai dalam parkour.
Beberapa orang inilah serta pergeseran dalam apa yang dihargai di parkour yang menjadi kepedulian saya.
Saya bertanggung jawab untuk membiarkan pergeseran ini terjadi tanpa
tentangan, sebagaimana orang lain dari ‘generasi saya’. Kami semua
berdiri dan membiarkan Parkour berkembang dan berubah dan tumbuh di
Internet tanpa pasang badan dan berkata, “Tunggu sebentar, itu bagus …
tapi bagaimana dengan semua bagian lain dari Parkour yang membuat saya
jatuh cinta? Di mana mereka ? “
Saya mencoba untuk melatih dengan nilai-nilai yang saya bicarakan ini
dalam pikiran ketika saya bekerja dengan orang lain dan saya juga tahu
banyak pria dan wanita yang berpengalaman dalam parkour melakukan hal
yang sama, tapi itu tidaklah cukup untuk menjaga nilai-nilai yang
sebagian dari kita sayangi dengan teguh yang terkandung pada beberapa
kelas parkour di beberapa kota di seluruh dunia. Ada kebutuhan untuk
menunjukkan ini dalam skala yang lebih besar jika kita ingin menjaga
hidup nilai-nilai ini, dan yang lebih penting kita perlu membuat
pernyataan yang cukup besar sehingga kita dapat ditemukan oleh
orang-orang yang datang ke parkour untuk pertama kalinya mencari lebih
dari sekedar lompatan besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, bukannya memegang teguh serta percaya
pada apa yang kita hargai dalam parkour seperti ketika kita pertama kali
menemukannya, hari demi hari, video demi video, nilai-nilai tersebut
sedang dirusak dan bahkan beberapa orang yang masih percaya Parkour itu
untuk semua orang pada akhirnya merasa seperti mereka tertinggal dalam
latihan mereka, tidak sebagus si anak baru, atau karena si orang baru
dapat membuat lompatan itu dan Anda berpikir Anda tidak bisa, atau
mungkin Anda bahkan tidak mau.
Tetapi jika Anda mengingat apa yang Anda hargai pada pertamakali,
maka Anda tidak akan peduli tentang tidak mampu melompat sejauh ‘orang
baru itu’. Ingat apa yang Anda pernah pikirkan? Apa pun lompatan, besar
atau kecil … tanpa pendaratan yang baik? Kapan mengembangkan climb up,
push-up handstand, squat max, quadrupedie Anda dan rekor dead-hang Anda
menjadi hal yang kurang memuaskan daripada meningkatkan lompatan lari
Anda ..?
Saya telah melihat berbagai kelompok orang berlatih bersama dan
menyinyir kepada orang dibelakangnya yang sedang bersusah payah
memperkuat pull-up-nya dengan jaket pemberat. Sejak kapan hal yang ia
lakukan itu menjadi bagian yang inferior dari Parkour?
Tantangan fisik bukanlah hal yang baru di dunia parkour. Selama
Parkour ada, tantangan fisik selalu menjadi bagian darinya. Bahkan,
beberapa dari Anda sudah menyadarinya, jauh sebelum lompatan menjadi
sorotan, tantangan-tantangan fisik adalah Parkour.
Tidak sebegitunya lagi. Tantangan fisik (bahkan, latihan fisik) adalah spesies langka dari parkour.
Dengan pergeseran penekanan selama beberapa tahun terakhir ini, Parkour
bukanlah lagi tempat ujian yang sempurna untuk mencari tahu dari apa
seseorang terbuat secara fisik, teknis, mental … dan emosional.
Sekarang ini sudah bukan lagi soal apakah Anda dapat berlari ke kota
lain dan kembali pada sebuah petualangan sebelum matahari terbenam,
bukan lagi tentang apakah Anda dapat mendorong mobil tua itu keatas
bukit dengan teman-teman Anda yang telah bersama-sama tertawa dan
menangis sepanjang hari… dan bukan lagi mengenai menghargai kemampuan
untuk melompat ke dahan pohon basah jika sewaktu-waktu Anda harus
menyelamatkan salah satu teman Anda yang terjebak disana.
Parkour sekarang dipandang oleh sebagian besar sebagai ‘suatu
panggung’ untuk orang berbakat, kesempatan bagi orang untuk menunjukkan
kepada dunia bahwa mereka bisa melompat lebih jauh dari orang lain, dan
mereka yang terbang dari berbagai belahan dunia untuk melakukan lompatan
yang sama yang telah dilakukan oleh beberapa orang lain dalam video
yang dia buat tahun lalu, oh tunggu, bahkan anda bisa melakukan
side-flip di lompatan tersebut.
Saya melihat kompetisi menampilkan ‘atlet terbaik Parkour’ dunia dan
‘juara dunia’ mampu berlari kesana-kemari selama 37 detik berusaha untuk
melakukan sesuatu yang lebih mengesankan daripada orang sebelumnya
sebelum waktunya habis, atau sebelum mereka kehabisan stamina. 37 detik
dari penampilan yang tidak berarti? Saya mengenal dan berlatih dengan
pria dan wanita yang bisa bertahan 37 menit pada tingkat intensitas yang
sama…
Siapa yang membiarkan omong kosong ini menyelinap masuk tak
tertantang? Kapan ini menjadi suatu hal untuk difokuskan? Sejak kapan
melompat lebih jauh dari orang lain menjadi hal yang sangat dihargai
dalam parkour? Sejak kapan berpergian ke lokasi latihan orang lain dan
mencoba untuk meniru gerakan seseorang menjadi sebuah tujuan? Saya benci
mengatakannya, tapi kita membiarkan omong kosong ini masuk. Hari dimana
kita mulai meragukan diri kita sendiri dan bertanya-tanya apakah
memiliki lompatan besar mungkin suatu hal yang penting.
Berikut ini adalah Jesse Owens melompat sejauh 26 kaki (dan 5/8 inci) pada tahun 1936, Berlin, Jerman …
Lompatan tersebut merupakan lompatan besar bahkan oleh standar dan
metodologi pelatihan tingkat tinggi saat ini.. dan lompatan itu jauh,
lebih jauh daripada lompatan di antara dua dinding yang pernah dilakukan
praktisi Parkour. Jadi mengapa komunitas Parkour (dan bahkan di dunia)
sangat terkesan ketika seseorang melompat 18 kaki antara dua bangunan
dan roboh seolah-olah ada kotak pasir seperti tempat Jesse mendarat di
sisi jauh? Apakah karena mereka cukup berani untuk melakukannya melewati
‘gap’ tersebut? Dalam kebanyakan kasus, ketakutan mereka akan jatuh
hanya dikalahkan oleh pikiran akan diabadikannya di YouTube ditonton
ribuan orang dalam piyama mereka. Apakah itu ide Anda akan keberanian?
Jika ya, silahkan tutup halaman ini sekarang karena tidak ada apa-apa di
sini untuk Anda.
Tetapi memiliki alasan pribadi dan nilai untuk melakukan lompatan
dengan risiko yang ditanggung demi membuktikan sesuatu untuk diri
sendiri serta mengatasi ketakutan dan keraguan diri sendiri, untuk
bertindak ketika segala sesuatu dalam diri Anda ingin berhenti dan
pulang HANYA untuk memperbaiki diri sendiri, hal ini menunjukkan
keberanian dan tekad. .. dan ini adalah beberapa nilai-nilai yang
membangun Parkour. Nilai-nilai sama yang menghilang di depan mata kita.
Berlari dan mendorong diri anda sekeras mungkin demi untuk memukau sisi
lain di internet atau karena teman Anda melakukannya, hanya menunjukkan
kenekatan dan menjanjikan umur pendek dalam parkour.
Saya ingin berpikir bahwa mayoritas orang yang membaca ini akan
setuju bahwa parkour bukanlah Parkour tanpa beberapa nilai-nilai
tersebut. Nilai-nilai seperti keberanian, tekad, daya tahan, kekuatan,
disiplin, dedikasi dan umur panjang. Nilai-nilai seperti kerendahan
hati, dan altruisme. Integritas.
Ada banyak cara yang bisa kita bantu secara positif untuk menyalurkan
masa depan disiplin ini namun sekaligus menolak untuk mengizinkan
nilai-nilai seperti ini menjadi hilang dalam praktik latihan merupakan
awal yang baik, dan tempat yang mudah untuk memulai.
Kita dapat menginspirasi praktisi generasi mendatang dan memungkinkan
mereka untuk melihat bahwa Parkour lebih sekedar lompatan besar dengan
tidak membiarkan pendapat kita tertidur.
Berkomentarlah pada video, meng-upload video Anda sendiri, menulis
artikel, melatih, berbicara, melakukan perjalanan dan melatih Parkour
dengan cara yang Anda percayai serta membiarkan orang melihat sisi itu
ke manapun Anda pergi. Mewakilinya. Jadilah itu.
Nilai-nilai ini tidak harus menampakkan diri sebagai suatu tantangan
seperti yang saya sebutkan sebelumnya, namun pada akhirnya satu-satunya
cara agar kita dapat secara signifikan tumbuh adalah dengan menghadapi
kesulitan dan beradaptasi untuk mengatasinya. Ini mungkin suatu bentuk
‘breaking a jump’, dalam melakukan sesuatu yang menakutkan Anda namun
Anda percaya itu risiko yang layak untuk mengatasi rasa takut Anda dan
menguji kemampuan Anda.
Mungkin akan menjadi persoalan teknis. Mungkin soal mengulangi running
jump ke pagar tipis dan berusaha mendarat dengan sempurna 3 kali
berturut-turut. 10 kali berturut-turut. 50.
Atau mungkin pada akhirnya itu akan menjadi suatu tantangan fisik.
Mungkin Anda akan mengambil salah satu latihan favorit Anda dan menguji
diri sendiri dan melihat seberapa jauh Anda bisa melakukannya. Lihat
berapa banyak pengulangan yang dapat Anda lakukan dalam 10 menit atau
berapa banyak berat badan Anda dapat diangkat setelah mendedikasikan 6
bulan latihan khusus.
Tidak masalah apa tantangannya, yang penting ialah Anda menghadapi
tantangan secara teratur jika Anda benar-benar ingin menguji diri
sendiri dan melihat Anda terbuat dari apa. Konfrontasi dan keinginan
mengatasi tantangan adalah jantung parkour dan berdenyut lebih lambat
setiap tahun di komunitas. Paparan teratur terhadap tantangan seperti
inilah yang membangun dan menanamkan nilai-nilai tersebut pada
orang-orang.
Hal yang tidak orang-orang sadari adalah bahwa anak yang berusia 19
tahun yang bisa melompat 18 kaki antara dua dinding setelah berlatih
satu tahun akan lebih mungkin tidak berada di sini lagi dalam beberapa
tahun. Hanya beberapa orang yang bertahan lebih dari sekedar beberapa
tahun dalam permainan ini, mungkin karena cedera, ketertarikkan memudar
atau hambatan lain yang tak terhitung. Jadi sementara apa yang dia
lakukan adalah mengesankan, ya .. apa yang Anda lakukan dalam latihan,
‘menjadi dan bertahan’, selama 10 tahun ke depan, 20 tahun … dan banyak
lagi, masih kuat, masih berkembang, masih berlatih dan menikmati parkour
.. jauh lebih mengesankan bagi saya. Ini adalah nilai-nilai dan tujuan
yang mengesankan saya yang ada pada beberapa orang elit yang saya
sebutkan sebelumnya dan ini adalah hal-hal yang tidak ingin saya lihat
menghilang ketika tahun-tahun berlalu.
Jangan meminta maaf atas nilai-nilai yang Anda percayai dan yang
terpenting jangan biarkan parkour untuk kehilangan jati dirinya jika
Anda percaya padanya. Parkour akan berkembang dan menjadi apa yang ada
di mata publik, tetapi pegang erat-erat dengan apa yang Anda anggap
penting karena Anda tidak sendirian.
Jangan biarkan nilai-nilai itu mati atau generasi berikutnya mungkin
tidak akan pernah melihat atau mengalami apa yang Anda lihat dan lakukan
ketika Anda menemukan parkour. Biarkan tantangan dan umur panjang
membentuk latihan Anda, tujuan Anda dan motivasi Anda. Tetapkan
tantangan pribadi Anda, bahkan beberapa yang mungkin mustahil, bahkan
pada mereka Anda akan belajar banyak. Ingat tantangan bukanlah tantangan
jika Anda tahu Anda dapat melakukannya. Dobrak diri sendiri, undang
keraguan dan ketidakpercayaan seperti musuh lama dan buat mereka menjadi
teman-teman Anda. Menghadapi rintangan yang tampaknya tak teratasi,
sesering mungkin.. dan Anda akan tumbuh menjadi orang yang lebih kuat.
Jika Anda ingin mengulangi lompatan kecil ke dinding yang tertutupi
oleh lumut untuk sepanjang hari sampai Anda bisa melakukannya dengan
mata tertutup .. hey teman, Anda tidak sendirian. Saya ingin mengulangi
lompatan itu dengan Anda. Tapi mari kita lakukan 50, hanya untuk
memastikan. Dan satu lagi untuk orang lain yang tidak bisa bergabung
dengan kita. Itu akan lebih baik bagi kita berdua ketimbang melakukan
lompatan besar sementara Anda memegang kamera.
Sekarang kita adalah minoritas, tetapi bersama-sama kita masih
merupakan persentase berpengaruh dari orang-orang yang mengatakan mereka
berlatih parkour. Kita masih dapat membiarkan pesan kita didengar untuk
semua yang datang ke parkour sekarang, dan dalam beberapa tahun ke
depan.
Ini adalah Seruan Bangkit (A Call to Arms) bagi mereka masih saya
mempertimbangkan untuk menjadi garda depan parkour. Saatnya sekarang.
Membuat perbedaan dengan menunjukkan serta berbagi dan menjadi sisi lain
dari parkour yang Anda kenal dan cintai. Sisi yang telah dilupakan
sebagian selagi disiplin ini berkembang.
Blane
Parkour dalam esensinya, adalah sebuah seni bergerak : sebuah
disiplin dimana kita bergerak secara cepat dan efisien dalam mengatasi
rintangan, bergerak dari titik A ke titik B. Tidak ada kekurangan
inspirasi dari semua traceur elite di seluruh dunia, dan yang paling
terkenal dari pendiri David Belle. Bagaimanapun, jumlah dari praktisi
wanita dalam disiplin ini, walaupun meningkat, tapi masih cenderung
kecil. Artikel singkat ini bertujuan untuk memberikan beberapa masalah
yang mungkin dihadapi para wanita ketika memulai Parkour dan memberikan
beberapa saran/solusi umum kepada seluruh traceuse/praktisi wanita
diluar sana.
The art of escape / Seni melarikan diri
Parkour
memperbaiki refleks dan kesadaran fisik. Parkour mempunyai potensi
sebagai bentuk terbaik self-defense yang bisa dimiliki semua wanita
ketika berjalan atau berlari sendirian, karena praktisi Parkour yang
terlatih akan mempunyai banyak pilihan yang terbuka ketika keadaan
tidak menguntungkan seperti ketika diserang atau dikejar. Dalam keadaan
seperti ini, rintangan seperti tembok-tembok, gerbang, dan rail tidak
akan menjadi hambatan bagi traceuse, tapi akan menjadi rute-rute untuk
melarikan diri.
Preparation / Persiapan
Seperti
halnya seni beladiri, Parkour memerlukan dedikasi dari para
pelajarnya. Bagaimanapun memakai pakaian yang tidak menghambat gerakan
dan sepatu yang mempunyai cengkeraman yang baik akan memastikan bahwa
fokus anda adalah murni dalam kinerja anda dan bukan pada peralatan
anda.
Problems encountered /Masalah-masalah yang dihadapi
Meskipun
menjadi seorang wanita membawa keuntungannya tersendiri, dimana ada
beberapa faktor yang jelas yang harus diperhatikan oleh para wanita:
terutama fakta bahwa para lelaki biasanya mempunyai kekuatan bagian
atas tubuh yang lebih dari pada para wanita. Ini berarti menarik berat
badan sendiri bagi para wanita akan lebih sulit/menantang dan tentunya
akan sangat melelahkan tanpa pengkondisian yang cukup. Jadi, ketika
seorang wanita memulai untuk berlatih Parkour, gerakan-gerakan yang
memerlukan penggunaan kekuataan tubuh bagian atas terbukti akan lebih
sulit. Contohnya ketika melakukan “climb up” setelah ‘saut de bras’(cat
leap) dan ‘passe-muraille’ (melewati tembok-tembok, dimana untuk
tembok yang lebih tinggi/besar melibatkan daya dorong ke atas tembok
untuk membantu memanjatnya). Dengan masalah seperti ini, adalah sebuah
ide yang bagus melatih kekuatan tubuh bagian atas dengan latihan di
rumah atau di gym.
Perbedaan-perbedaan lain yang harus
dipertimbangkan adalah bahwa para lelaki tidak mudah untuk memar, tidak
terlalu memperhatikan cedera kecil di bagian badan dan mempunyai
sendi-sendi yang lebih cocok untuk kekuatan. Namun, ini tidak berarti
bahwa secara potensi para wanita tidak mampu.
Advantages of the female build / Keuntungan dari tubuh wanita
Dimana
ada kelemahan, disana juga ada keuntungan menjadi wanita. Yang paling
terlihat, wanita mempunyai kelenturan natural yang lebih hebat daripada
para lelaki, ini berarti lebih banyak penambahan pada sendi-sendi dan
otot tanpa adanya cedera. Dengan tubuh yang lebih kecil juga bisa
terbukti berguna dalam gerakan-gerakan tertentu, seperti berlari dan
melompat melewati ruang yang kecil dengan cepat.
Heightened awareness regarding injury / Meningkatkan kesadaran ketika cedera
Masalah
yang harus digarisbawahi ketika memulai Parkour, tanpa melihat masalah
gender, adalah bagaimana untuk menghindari cedera. Melakukan streching
sebelum dan setelah sesi latihan Parkour adalah sangat penting dan
akan mengurangi kemungkinan cedera pada otot sebelum cedera dan
menghilangkan asam lactic setelah berlatih (adalah asam lactic dalam
otot yang menyebabkan kesakitan di hari berikutnya). Saya
merekomendasikan melakukan strecthing selama 15 s/d 20 menit sebelum
memulai latihan dan 10 menit setelah selesai latihan.
Bagaimana
anda mendarat adalah hal yang sangat penting dalam Parkour, dan
beberapa gerakan dasar yang harus dilatih seperti rolling ketika kita
turun dari ketinggian dan mendarat pada landasan yang lebih kecil.
Pendaratan yang baik akan mencegah sakit pada lutut dan betis dan dalam
jangka panjang akan melindungi sendi-sendi anda dari cedera.
Fears / Ketakutan
Setiap
orang mengalami ketakutan pada titik tertentu ketika berlatih Parkour.
Tubuh kita mempunyai mekanisme keselamatan alami yang mencegah kita
dari mencederai diri sendiri dan seperti yang anda bayangkan, berlari
dan melompat melewati/ke arah dalam/kea rah atas objek-objek dan untuk
memulainya dirasakan bukan sebuah tindakan yang wajar/natural. Oleh
karena itu, pada awalnya, para praktisi mempunyai ketakutan-ketakutan
untuk diatasi. Dengan berlatih, kepercayaan pun tumbuh; sangatlah
penting bahwa anda mendorong tubuh anda sejauh mungkin untuk bisa
merasakan kepercayaan bahwa anda bisa melakukannya dan jangan pernah
membiarkan siapapun membuat anda merasa terpojok untuk mencoba sesuatu
yang anda sendiri belum yakin bahwa anda siap untuk melakukannya.
Selalu akan ada lain hari untuk mendorong level anda dan menghadapi
ketakutan-ketakutan anda.
Progression / Kemajuan
Bukanlah
sesuatu yang tidak wajar dalam Parkour untuk melewati fase-fase dalam
latihan anda, dimana kemajuannya terasa lambat dan kemudian semakin
cepat. Ini muncul karena akan membutuhkan waktu untuk pikiran anda
untuk mengimbangi kemampuan fisik anda. Kemampuan badan anda mungkin
telah berkembang kepada titik dimana anda sadar bahwa anda mampu untuk
menghadapi obstacle-obstacle yang lebih menantang atau teknik yang
lebih sulit. Namun, bagian paling sulit dalam kemajuan adalah
mengaParkour dalam esensinya, adalah sebuah seni bergerak : sebuah
disiplin dimana kita bergerak secara cepat dan efisien dalam mengatasi
rintangan, bergerak dari titik A ke titik B. Tidak ada kekurangan
inspirasi dari semua traceur elite di seluruh dunia, dan yang paling
terkenal dari pendiri David Belle. Bagaimanapun, jumlah dari praktisi
wanita dalam disiplin ini, walaupun meningkat, tapi masih cenderung
kecil. Artikel singkat ini bertujuan untuk memberikan beberapa masalah
yang mungkin dihadapi para wanita ketika memulai Parkour dan memberikan
beberapa saran/solusi umum kepada seluruh traceuse/praktisi wanita
diluar sana.
Artikel ditulis oleh Liv Rowlans aka Flame
Original Posted by Adit Roar at www.parkourindonesia.web.id/forum
Translated by : Ullie Mahardi (Parkour Bandung)
Foto
: Tracey Tiltman. Parkour Generations ketakutan-ketakutan anda,
tidak perduli semampu apa anda. Saat-saat seperti ini bisa membuat anda
sangat frustasi, Tapi bagaimanapun, dengan melatih mental dan tidak
memperlambat latihan anda, hal ini akan bisa diatasi relatif lebih
cepat.
Walau ini adalah berita lama namun masih layak untuk di muat, karana saya pikir ini bisa sebagai wawasan bagi temen2 untuk tidak menganggap Parkour itu EXSTRIM.....
Jakartapress.com - Melihat atraksi loncat-meloncat dari atap gedung satu ke gedung lain, pasti membuat jantung berdebar. Tapi kengerian itu berubah menjadi rasa takjub tatkala loncatan itu dilakukan dengan indah dan gesit.
Ya, itulah atraksi dilakukan Komunitas Parkour, memukau puluhan pasang mata yeng melihat atraksi mereka.
Atraksi parkour memang tergolong baru di Indonesia. Banyak orang belum
tahu tentang Parkour, bahkan memandang Parkour sebagai olahraga ekstrim
karena dilakukan sekelompok pemuda yang kerap berjingkrak-jingkrak yang
dianggap kurang kerjaan.
Sedikit tentang sejarahnya, Parkour ditemukan oleh warga negara
Perancis bernama David Belle. David mengenalkan Parkour, dengan tujuan
melatih efisiensi gerakan membentuk badan dan pikiran seseorang agar
dapat menghadapi rintangan-rintangan dalam kondisi yang berbahaya
sekalipun.
Di Prancis, Parkour bukan suatu hal yang baru, dan Parkour sering
disebut l’art du dplacement oleh warga setempat. Karena membuminya,
Parkour pun pernah diangkat dalam sebuah film layar lebar Prancis,
dengan judul Yamakasi yang diambil dari kisah kelompok Parkour,
Yamakasi.
MERAMBAH INDONESIA
Terinspirasi dan kagum akan cerita yang mengisahkan anak-anak Yamakasi di Perancis sana, Parkour pun mulai merambah ke Indonesia, termasuk
Jakarta. Bahkan, millis sekelompok anak muda pecinta Parkour pun telah
dibuat.
“Kita membuat millis Parkour, tentu saja untuk membahas kesamaan hobi
yang bertujuan membuat komunitas Parkour, karena kita ingin
memasyaratkan Parkour di Indonesia berawal di Jakarta,” kata Muhammad
fadli, salah seorang pengurus Parkour
Dijelaskan Fadli, sejak membuat millis Parkour pada Agustus 2007 lalu,
komunitas ini makin bertumbuh pesat. Bahkan. mengagendakan latihan rutin
pada hari Minggu di Gelora Bung Karno, Jakarta, jumlah anggotanya pun
kian bertambah.
"Saat ini lebih dari seratus anggota, tapi hanya sekitar 80 orang yang aktif," jelasnya.
Menurutnya, dengan mengusung misi 'Memasyarakatkan Pakour dan
Mem'Pakour'kan Masyarakat', Komunitas Pakour tak hanya ingin mengajak
warga Jakarta belajar Parkour, lebih dari itu, ingin mempertunjukan
bahwa Parkour merupakan sebuah hobi yang menampilkan gerakan seni yang
indah dan atraktif. [herlin/n]
Enjoy Our Movement :j:
Enjoy our Movement, itulah tema Jamming Regional Sulawesi 2012,
Jamming Regional yg dilaksanakan pertama kalinya di pulau Sulawesi. Yah
betul,pertama kalinya di pulau Sulawesi. Akhirnya Parkour di indonesia
,khususnya di Sulawesi telah berkembang sangat pesat, Jamreg Sulawesi
sendiri akhirnya dapat dilaksanakan berkat ide dan masukan kawan-kawan
dari Kendari, Manado, Palu dan dari berbagai daerah lainnya yg ada di
Sulawesi.
Jumat 18 mei 2012 :g:
Hari yg paling di tunggu kedatangannya pada bulan itu, yah betul,,hari
dimana Kami ( Parkour Makassar ) kedatangan tamu istimewa dari Kendari,
Palu dan Pare-Pare. Dan untuk pertama kalinya KAMI akan bertemu dengan
kawan-kawan sesama praktisi Parkour yg ada di Sulawesi.
Hari itu pun dimulai, sesaat setelah ibadah sholat jumat dilaksanakan,
dimulai dengan menunggu kedatangan peserta Jamreg tiba ditanah Makassar.
8 peserta dari K-Run ( Kendari ),7 cowok dan 1 cewek adalah peserta yg
datang paling awal, menempuh perjalanan lebih dari 24 jam akhirnya
sampai di Makassar, disusul 2 peserta, yg istimewanya adalah sepasang
KEKASIH, wakil dari P.U.M.A ( palu ) yg tentu saja sampai dengan wajah
yg lusuh dan tenaga yg hampir habis karena menempuh perjalanan juga
lebih dari 24 jam menuju Makassar, dan peserta yg terakhir tiba adalah
peserta yg berasal pare-pare yg berada tidak jauh dari Makassar
Acara penyambutan dan pembukaan dilaksanakan pada malam hari,setelah
semua peserta yg ikut beristrahat dari perjalanan panjangnya menuju
makassar. Acara di mulai tepat jam 9 malam,dibawah indahnya langit
malam, diselingi dinginnya udara malam dan ditemani oleh cangkir-cangkir
kopi susu hangat dan piring-piring yg penuh dengan ubi-ubi hangat yg
siap mengisi perut di malam itu.Tidak ada keringat,tidak ada rasa letih
ataupun rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang di wajah peserta
malam itu, yg ada hanyalah Tawa,kegembiraan,semangat dan antusias
kawan-kawan yg akhirnya dapat saling bertemu sebagai sesama Praktisi
Parkour,dan bertemu sebagai keluarga besar Parkour Indonesia.
Sabtu 19 mei 2012 :c:
Hari dimulai dengan sarapan bersama para peserta, setelah sarapan
peserta diajak untuk bersiap-siap melakukan kegiatan pertama hari itu,
yaitu lari pagi menuju lap.Hasanuddin, tempat yg akan menjadi medan
pertumpahan keringat dihari itu.
Tepat jam 9 pagi, semua peserta tiba di lap.hasanuddin, diiringi doa
bersama,acara pun dimulai dengan melakukan pemanasan sebelum melakukan
“training to death”, latihan Stregth dan Conditioning selama 2 jam
penuh, latihan yg menguras hampir seluruh tenaga peserta dihari itu,yg
ada hanya keringat dan semangat menemani saat-saat menjalani “siksaan”
raga itu,”latihan yg beginilah yg saya cari,lthan sampai setengah mati”
celoteh salah seorang peserta. SnC hari itu diakhiri tepat pkl.12.00
WITA. Di akhiri dengan istirahat sejenak sembari menyantap hidangan
makan siang untuk mengisi kembali perut dan tenaga yg hampir habis.
Jam 3 sore ,peserta diajak untuk mengelilingi “panas”nya kota Makassar,
mengunjungi situs bersejarah Monumen Pembebebasan Irian Barat,Pantai
Losari, dan hari itupun ditutup dengan latihan ringan di depan halaman
salah satu tempat favorit latihan, Benteng Ujung Pandang atau lebih
dikenal dengan nama Benteng Fort Roterdamm
Minggu 20 Mei 2012 :j:
Jam 8 pagi,tepat dihari terakhir Jamreg dimulai, peserta dibawa memasuki
kampus Universitas Hasanuddin, tempat kegiatan dilakasanakan.kegiatan
dimulai dengan doa bersama dibawah rindangnya pohon, kemudian pemanasan
ringan dipimpin oleh salah seorang peserta, kemudian “free time”
dimulai, waktunya untuk mengeksplorasi tempat-tempat yg ada dalam
kawasan kampus.jumping,rolling,wall climb,vaulting,running, hampir semua
gerakan dalam parkour dapat dieksplorasi dan dilakukan peserta di
tempat ini, jam 12 siang akhirnya peserta selesai latihan di kampus
UNHAS, dan dilanjutkan istirahat sejenak untuk melaksanakan sholat,makan
siang dan mengembalikan kembali tenaga.Jam 2 siang peserta dibawa ke
Gelanggang Olahraga,tempat terakhir untuk mengolah dan mengeksplorasi
kemampuan peserta dalam bergerak efisien dan efektif.setelah lebih dari 2
jam menikmati obstacles yg ada di GOR, peserta kemudian dikumpulkan
untuk mengikuti acara penutupan Jamming Regional Sulawesi 2012,diringi
indahnya langit sore hari dan rintik hujan hari itu, diiringi doa
bersama akhirnya Jamming Regional Sulawesi 2012 ditutup oleh salah
seorang panitia pelaksana dan akhirnya Jamming Regional Sulawesi 2012
telah selesai dilaksanakan
Seketika terbayar sudah setiap tetes keringat,rasa lelah,letih yg
dirasakan peserta selama Jamreg dilaksanakan berganti dengan perasaan
haru dan bahagia bercampur tawa,senang rasanya bertemu dengan
kawan-kawan.
Sebarkanlah ilmu dan semangat yg telah kalian dapatkan kapanpun dan dimanapun kalian berada.
Sampai jumpa di Jamming Regional Selanjutnya
Parkour Makassar
Enjoy Our Movement
Melihat banyaknya terjadi argumen di sana sini mengenai berbagai
disiplin dari seni bergerak asal Perancis yang kami yakini ini, maka
saya mencoba untuk ambil bagian dalam argumen tersebut namun melalui
pendekatan yang berbeda. Di sini saya akan mengungkapkan tentang tiga
nama metode disiplin yang lahir dari hasil kreasi para pendahulu dari
masing-masing disiplin tersebut. Apalagi setelah saya membaca beberapa
pemikiran dari mereka yang merasa lebih bangga dengan masing-masing
disiplin yang mereka pelajari.
Yang saya maksud dari tiga nama tersebut adalah Art Du Deplacement,
Parkour dan Free Running. Masing-masing disiplin ini menuntut sebuah
ketekunan kerja keras serta pemahaman yang baik dari masing-masing
individu yang menjalaninya. Untuk itulah, saya menulis note ini untuk
membuka sedikit tentang tiga disiplin yang “serupa namun tak sama” ini
ke dalam sebuah wacana, sehingga semua praktisi mampu mengisi kepada
orang lain dan mnyebarkannya kepada orang lain lagi. Okey kita mulai
satu per satu.
Art Du Deplacement:
Art Du Deplacement ini bisa dikatakan sebagai seni berpindah tempat
atau seni bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan
obstacles yang berada di lingkungan dengan memanfaatkan fisik dan teknik
yang menerapkan semua kemungkinan menjadi suatu rangkaian, yang
bertujuan untuk menciptakan gerakan keografi yang cantik dan spektakular
di lingkungan urban maupun alami. Art Du Deplacement dikembangkan oleh
original member dari Yamakasi yang terdiri dari sembilan orang pada awal
permulaannya. Walaupun akhirnya grup ini terpecah, namun beberapa
member yang tersisa seperti Laurent Pitermossi, Yann Hnautra, Chau Belle
Dinh serta William Belle terus mengembangkan Art Du Placement dengan
definisi dan prinsipnya tersendiri di bawah label Majestic Force.
Beberapa team lain pun muncul dari seni yang berharga ini antara lain
seperti Adrenaline, TCT, Dvinsk Clan, SW crew dan lain-lain.
Parkour:
Parkour merupakan sebuah disiplin yang diterapkan oleh David Belle
setelah meninggalkan Yamakasi. Ia menerapkan Parkour sesuai dengan apa
yang telah diajarkan oleh ayahnya Raymon Belle mengenai pelatihan halang
rintang militer untuk bergerak cepat melewati obstacles di semua
lingkungan dengan gerakan yang efektif dan efisien. Parkour ditujukan
untuk beradaptasi melewati rute dengan memanfaatkan kekuatan fisik
dengan gerakan yang cepat tanpa kehilangan banyak energi untuk sampai
tujuan. Semua gerakan parkour ditujukan agar seseorang dapat mencapai
tujuan atau dapat digunakan dalam keadaan terjepit untuk melarikan diri
dari kejadian tidak terduga. Parkour merupakan disiplin yang paling
populer, karena prinsip moderasi atau kesederhanaan yang diterapkan oleh
David Belle ke setiap sanubari praktisinya di seluruh dunia.
Free Running
Free Running adalah sebuah evolusi dari cara bergerak dan disiplin
yang telah ada. Free Running merupakan kebebasan untuk seseorang
bergerak dengan gerakan yang indah dan menarik sebagai bentuk kebebasan
berekpresi dari setiap praktisinya. Disiplin ini dikembangkan oleh
Sebastian Foucan, sahabat kecil dari David Belle sekaligus salah satu
pendiri dari Yamakasi. Sebastian memasukkan unsur filosofi yang menarik
dari Free Running ini yang bersifat lebih personal dibandingkan dua
disiplin lainnya.
Awal Mula
Semuanya bermula dari sebuah konsep Methode Naturalle karya Georges
Hebert. Methode Naturalle adalah cikal bakal dari ketiga disiplin
tersebut yang diciptakan oleh Georges Hebert sebelum perang dunia
pertama. Georges Hebert adalah seorang petugas angkatan laut yang suka
berkelana ke seluruh bagian dunia. Saat kunjungannya ke benua Afrika, ia
terkesan dengan sebuah suku primitif yang memiliki fisik serta skills
yang tinggi. Mereka memiliki tubuh yang kuat, flexible, energik, dan
memiliki daya tahan yang tinggi padahal mereka tidak memiliki tutor
gymnastic. Akhirnya Hebert menyadari, bahwa yang membuat mereka kuat
bukanlah karena mereka latihan gymnastic, melainkan karena lingkungan
tempat tinggal mereka itu sendiri.
Terinspirasi dari suku tersebut, Hebert menciptakan sebuah latihan
yang diberi nama Methode Naturalle sebagai metode bergerak secara alami
di lingkungan sekitar. Methode Naturalle dikenal dengan moto ‘etre fort
pour etre utile’ atau ‘menjadi kuat dan berguna’ dengan tujuan mulia
untuk membantu diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan kekuatan
dari hasil latihannya.
Latihan ini meliputi sepuluh gerakan dasar yaitu walking, running,
jumping, quadrupedal movement, climbing, balancing, throwing, lifting,
self-defense, swimming. Konsep inilah yang akhirnya digunakan untuk
pelatihan militer tentara Perancis di perang dunia kedua. Sampai saat
ini, Methode Naturalle juga dipakai dalam pelatihan militer dan pemadam
kebakaran di Perancis.
Salah satu yang mendalaminya adalah Raymond Belle, seorang tentara
Perancis yang akhirnya bergabung dengan sapeurs-pompiers ( pemadam
kebakaran militer). Raymond memperkenalkan pada anaknya (David Belle)
tentang methode naturalle dan latihan halang rintang militer. Bersama
sahabatnya Sebastian Foucan, mereka berlatih dan bermain bersama di usia
16 tahun. Pada waktu itu, mereka berdua bertemu dengan para remaja
seusia mereka yang tertarik dengan apa yang mereka lakukan.
Bersama-sama, mereka berlatih dan mengembangkan fisik dan teknik latihan
mereka sehingga menjadi sebuah disiplin yang saat itu dikenal dengan
nama “Art Du Deplacement”. Mereka terdiri dari David Belle, Sébastien
Foucan, Laurent Pitermossi, Yann Hnautra, Charles Perrière, Malik Diouf,
Guylain N’Guba-Boyeke, Châu Belle-Dinh, dan Williams Belle. Pada tahun 1997, mereka akhirnya melanjutkan Art Du Deplacement yang
mereka latih dengan menamakan grup mereka dengan sebutan Yamakasi.
Awalnya mereka mencari kata-kata yang baik untuk menamakan grup mereka.
Mereka menginginkan kata-kata Strong Man atau Strong Body namun sangat
susah dan tidak nyaman bila diucapkan, khususnya dalam bahasa Perancis.
Disinilah Guylain (yang menjadi Rocket di film Yamakasi) menyebutkan
kata “Yamakasi” yang berasal dari bahasa Lingala (salah satu bahasa
Congo, Afrika) yang memiliki arti Strong Spirit, Strong Body, Strong
Man. Akhirnya mereka memulai menamakan grup mereka dengan sebutan
Yamakasi.
Tahun 1998, Yamakasi unjuk gigi dengan menampilkan aksi mereka di
film pendek berjudul “Le Message” yang menampilkan seni dan olahraga
yang mereka lakukan. Namun setelah penampilan mereka di acara musik
“Notre Dame de Paris”, David dan Sebastian mengundurkan diri dari
Yamakasi karena hak pendapatan dan perbedaan pendapat dan definisi dari
Art Du Deplacement tersebut. Sehingga saat film “Yamakasi” yang muncul
pada tahun 2001 terus berjalan tanpa kehadiran mereka berdua.
David akhirnya menamakan seni disiplin yang dimilikinya dengan nama
“Parkour”. Nama tersebut ditemukan oleh David Belle dengan temannya yang
bernama Hubert Koundé. Kata Parkour itu sendiri dari kata “parcours du
combattant” yang berarti pelatihan halang rintang militer yang sempat
digagas Georges Hébert. Kata Parcours “c” diganti menjadi “k” dan “s”nya
dipakai untuk menjelaskan filosofi Parkour itu sendiri. “Parkour’s
philosophy about efficiency” . Sedangkan istilah Traceur adalah sebuah
sebutan untuk para praktisi Parkour. Seseorang bisa dikatakan traceur
jika orang tersebut sudah memahami arti, basic, dan filosofi dari
Parkour itu sendiri. Traceur berasal dari kata “tracer” yang berarti
cepat, mempercepat (to trace/ to go fast).
David dan Sebastien terus mengembangkan parkour dengan memunculkan
beberapa praktisi lain yang akhirnya menjadi team, seperti Stephane
Virgoux, Johann Virgoux, Sebastien Goudot, Jerome Ben Roues, Kazuma,
Michael Ramdan, Rudy Cuong dengan nama “La Releve”. Team inilah yang
mengembangkan parkour yang semula di Lisses yang dikenal sebagai
Original Crew atau Original Traceur. Aksi mereka bisa dilihat dalam
beberapa video di youtube.
Untuk memudahkan Parkour dalam bahasa yang lebih umum atau bahasa
Inggris, maka Parkour juga biasa diartikan dengan sebutan Free Running.
Namun di tahun 2001, perbedaan pandangan antara David Belle dan
Sebastian Foucan mengenai prinsip yang harus ditanam dari displin
Parkour mulai terlihat. Sehingga akhirnya Sebastian dan beberapa
Original Traceur memutuskan untuk memisahkan diri mereka dari dunia
disiplin Parkour.
Sebastian Foucan akhirnya menamakan disiplin yang ia bawa dengan
sebutan “Free Running”. Sebastian menciptakan kosep dan kepercayaan
“Follow Your Way” yang mengedepankan kebebasan bergerak dan kebebasan
berekspresi. Konsep Free Running kemudian mulai mewabah daerah Inggris
dengan muncul video dokumenter “Jump London” yang menampilkan Sebastian
Foucan, Johann Virgoux, serta Jerome Ben Roues. Free running
mengedepankan “freedom of movement” yang menampilkan gerakan-gerakan
yang indah dan menarik dengan konsep kesenangan pribadi.
Free Running mungkin terlihat lebih personal dibandingkan dua
disiplin lainnya. Sebastian menanamkan filosofi yang luar biasa di dalam
Free Running bagi mereka yang mencintai kebebasan bergerak untuk
mengembangkan dan membebaskan intuisi serta kreatifitas mereka. Free
Running berdiri tanpa ada team serta leader, berdiri sebagai satu
komunitas Free Running. Dengan prinsip seperti itu, maka Sebastian
Foucan didaulat menjadi duta dari komunitas Free Running di seluruh
dunia.
Serupa Tapi Tak sama
Ketiga disiplin ini memang terlihat sama, namun memiliki nilai dan
tujuan yang berbeda. Seperti yang dikatakan Laurent Pitermossi dari
Majestic Force “parkour, l’art du deplacement, freerunning, the art of
movement (seni bergerak)… semuanya merupakan hal yang sama. Semua itu
merupakan gerakan dan berasal dari tempat yang sama, bersumber dari
sembilan orang yang sama. Hal yang paling membedakan hanyalah bagaimana
cara setiap orang bergerak.” Selain itu, ditambahkan oleh komentar Adit
Roar yang sempat mendapatkan sumber dari Laurent yang telah menjelaskan
pengembangan dari disiplin tersebut. “Waktu umur 16 tahun, lahirlah ADD (
L’art du deplacement). Setelah lebih matang dan mulai beda pemikiran
antara art yg mereka kembangkan, barulah mereka memutuskan untuk
mengembangkan apa yg mereka percaya dalam diri mereka. Dan untuk
membedakannya satu sama lain, mereka berniat menamainya. Disinilah
sebuah bagian dimana David memilih Parkour dan Foucan memilih free
running. Mereka berdua mengerti satu sama lain, karena mereka mengetahui
apa rasanya menjalankan apa yang mereka yakini. Dan itu tidak bisa
dirubah”.
Bila memperhatikan dengan apa yang dimaksudkan oleh Laurent, bahwa
“yang membedakan bagaimana cara setiap orang bergerak”, maka hal inilah
yang akhirnya membedakan beberapa disiplin tersebut. Parkour lebih
mengutamakan gerakan yang efisien yang berarti “tidak buang-buang
tenaga”. Hal tersebut yang ingin dipertahankan oleh David Belle untuk
prinsip Parkour. Seperti yang dikatakannya “parkour merupakan sebuah
seni yang dapat menolong kamu melewati berbagai rintangan dari titik A
ke titik B hanya dengan menggunakan kemungkinan (kekuatan) tubuh
manusia. Pahami bahwa seni ini diciptakan oleh beberapa tentara di
Vietnam untuk melarikan diri atau mencapai suatu tujuan: semangat inilah
yang saya inginkan tetap berada pada parkour. Kamu harus dapat
membedakan antara yang penting dan tidak penting dalam situasi
darurat/bahaya. Kemudian kamu akan mengetahui apakah itu parkour atau
bukan. Jika kamu melakukan gerakan akrobatik di jalanan tanpa ada tujuan
jelas atau hanya sekedar untuk unjuk (pamer) kemampuan, mohon jangan
anggap atau katakan bahwa itu adalah parkour. Akrobatik sudah ada jauh
sebelum parkour”. Parkour memiliki filosofi untuk bergerak menuju tujuan
dengan melewati rintangan dengan gerakan yang efektif dan efisien
sehingga prinsip ini dapat digunakan untuk melewati rintangan di rute
kehidupan yang dilalui. Setiap traceur bergerak secara nyaman dan
mementingkan efisiensi untuk cepat sampai di tujuan.
Sedangkan Sebastian menerapkan sebuah konsep yang menarik untuk Free
Running dan setiap praktisi yang menjalani. “Freerunning adalah sebuah
evolusi. Bergerak seperti binatang. Bergerak mengalir bagaikan air atau
menemukan keseimbanganmu sendiri dengan sebuah filosofi yang benar. Ini
adalah bagian dari Free runner. Fokuslah dengan apa yang ada di dalam
dirimu melebihi yang ada di luar sana”. Free running lebih bersikap
individu yang bergerak untuk menujukkan yang namanya “Kebebasan
Bergerak”. Sebastian memberikan filosofi yang berbeda dengan parkour.
Bila di Parkour memiliki prinsip bergerak secara nyaman dan mementingkan
efisiensi untuk cepat sampai di tujuan, maka Sebastian memiliki
pemikiran yang berbeda. Baginya, bukan bagaimana cara cepat sampai di
tempat tujuan, yang terpenting baginya adalah bagaimana proses mencapai
tujuan tersebut. Maka disinilah Freerunning bergerak tanpa ada point a
dan point b. Bergerak sesuka hati dengan gerakan yang enak untuk dilihat
dan lebih spektakular. “Untuk apa hanya melompat ke depan kalau bisa
melompat dengan cara yang lebih indah dan menarik”.
Disinilah terlihat apa yang membedakan dari setiap masing-masing nama
disiplin tersebut. Semua tertuju pada satu sumber, namun dengan
pengembangan pemikiran seiring dengan cara berpikir masing-masing
founder.
Sebuah Keputusan dan Kesimpulan Apa yang bisa saya ambil dari semua ini?
Apa yang bisa diambil dan
diserap oleh semua prkatisi yang membaca note ini?
Argumen
berkepanjangan antara masing-masing disiplin justru yang akan membuat
otak, hati dan tubuh kita tertahan untuk tidak berlatih. Hal inilah yang
dimaksudkan oleh Dan Edwardes dari Parkour Generation. Sibuk
memperdebatkan mana yang benar dan mana yang salah membuat kita tidak
mau menghormati sistem latihan kita masing-masing dan menghormati sistem
latihan disiplin lainnya. Yang penting adalah, kita semua harus bisa
menempatkan diri sesuai yang kita pahami.
Bila anda tertarik dan merasa nyaman dengan Art Du Deplacement dan
metodenya, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip dan metode yang
diterapkan. Bila anda tertarik dan merasa nyaman dengan Parkour dan
metodenya, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip dan metode yang
diterapkan. Begitu pula dengan Free Running. Merasa lebih nyaman dengan
Free Running, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip, filosofi dan
metode yang diterapkan.
Disini saya berbicara sebagai praktisi yang memilih Parkour sebagai
disiplin karena saya bergabung dengan “Forum Parkour Indonesia”. Maka
metode serta filosofi yang saya ambil dan saya latih adalah parkour.
Begitu pula dengan anda yang merasa membawa nama parkour di keseharian
ada mulai dari bergabung dengan parkour Indonesia serta memakai
pernak-pernik parkour, maka berlatihlah parkour dengan baik sesuai
dengan metode yang diterapkan dalam sebuah komunitas di mana anda
berada. Semua metode latihan di setiap daerah tentunya sangat berbeda,
namun mempunyai disiplin yang sama yang sesuai dengan metode latihan
yang sesungguhnya.
Namun bila ada yang tertarik dengan dua bentuk latihan lainnya
seperti Art Du Deplacement dan Free Running, maka bentuklah kepribadian
dirimu sesuai dengan disiplin yang kamu pilih dan terapkan filosofinya
dalam kehidupan. Kita akan berlatih bersama dan saling mendukung dan
menghormati satu sama lain tanpa melukai masing-masing disiplin. Karena
tiga nama yang terlampir disini merupakan memiliki satu akar yang sama
dari tempat dan sumber yang sama.
pernah merasa ragu untuk melakukan suatu lompatan? :b:
tidak bisa bergerak di ketinggian? :a:
ragu untuk mendarat di besi bulat? :i:
saya pernah berada di kesemuanya. bahkan sampai saat ini saya masih
punya semua masalah tersebut. lalu apa yang menyebabkan semua itu?
kenapa sangat sulit untuk melakukan hal-hal tersebut?
mungkin semua akan mempunyai satu jawaban; “TAKUT” :m: ya takut akan
ketinggian, takut akan jatuh, takut gagal, takut akan cedera, dan segala
macam rasa takut lainnya. pada perjalanan RDV6 kemarin, saya
berkesempatan mengikuti satu buah seminar singkat tentang bagaimana kita
berteman dengan rasa takut. saya lebih senang menyebut berteman bukan
menghilangkan rasa takut, karena untuk saya rasa takut itu yang menjaga
saya.
Dan Edwardes, dan Stephane Vigroux menjadi pembicara di seminar
singkat 90 menit ini. “Breaking the Jump” adalah temanya. Breaking the
jump bukan berarti kita harus melakukan lompatan, tapi juga berarti kita
melakukan sesuatu yang bisa menjadi tantangan untuk diri kita,
menghadapi dan berteman dengan rasa takut kita. breaking the jump bisa
berarti kita melompati sebuah jarak yang membuat kita takut, bisa
berarti berdiri di ketinggian, mendarat di besi bulat, melakukan
keseimbangan di ketinggian, apapun yang membuat kita merasa takut.
bagaimana kita menghadapi itu semua?
1. Datangi tempat tersebut
dengan mendatangi tempat yang membuat kita takut secara terus menerus
secara tidak sadar kita melatih diri kita untuk bisa menghadapi rasa
takut dan sedikit demi sedikit mengenal tempat tersebut. sampai tiba
pada saatnya kita datang ke tempat tersebut dan bilang “ini saatnya saya
untuk melakukannya”
2. Berlatih di tempat aman
cari tempat yang kira2 menurut teman2 mempunyai karakter yang sama
dengan tempat yg menjadi tantangan tapi dengan situasi yang lebih aman.
lakukan sebanyak mungkin repetisi sampai pada akhirnya kita merasa
nyaman dan percaya diri bahwa saya bisa melakukan lompatan yang sama di
tempat yang jadi tantangan tersebut.
3. punya partner berlatih
mempunyai teman yang tahu betul kemampuan kita itu amat sangat
membantu, kadang dorongan teman yang tahu betul banyaknya kita latihan
bisa memberikan kepercayaan diri ekstra dan juga rasa aman dan nyaman.
partner berlatih yang baik akan mampu memberikan penilaian yang baik
ketika kita siap atau tidak dalam melakukan suatu lompatan, walaupun
pada akhirnya semua keputusan ada di tangan kita.
4. sometimes you have to let it go
ini merupakan saran terbaik menurut saya. kadang ketika kita sudah
melakukan semua persiapan dan masih merasa takut, yang harus kita
lakukan adalah melepaskan semua rasa takut tersebut dan “lompat”. (tapi
tentunya dengan kesiapan yang matang)
ketika kita datang ke tempat tantangan dan tidak berhasil melakukan
tantangan tersebut jangan merasa gagal. karena kadang inti dari breaking
the jump atau latihan apapun bukan sekedar berhasil atau tidak, tapi
seberapa besar kita melakukan usaha untuk bisa berteman dengan rasa
takut kita. at least we tried our best, there are always another time :c: .